Tag

, ,

Keberadaan manusia di muka bumi banyak mendapat perhatian dari para pemikir (ahli filsafat) ketika mereka bertafakur. Apakah manusia berada karena didahului oleh eksistensi atau esensi? Sebenarnya hal yang sangat menjanggal ketika hal ini masih di perselisihkan karena diantara perselisihan itu:

  • –          Manusia ada di dahului oleh esensi
  • –          Manusia ada karena di dahului oleh eksistensi

Hal yang sangat wajar apabila masalah ini mendapat perhatian khusus, dengan semakin berkembangannya ilmu pengetahuan maka teori-teori pun bermunculan bak air terjun. Dari perkembangan ilmu pengetahuan tersebut maka lahirlah aliran Eksistensialisme dan Humanisme.

Dan pada kesempatan ini penulis akan memaparkan sedikit apa yang dimaksud eksistensi dan humanisme.

A. Eksistensialisme

1. Pengertian

Dari berbagai aliran-aliran filsafat yang dipelopori oleh para ilmuan/filosof, maka mengundang/mendorong untuk mengkaji kembali akan kebenaran ide, teori-teori yang telah dikemukakan oleh ofilosof terdahulu yang hidup lebih lama, dengan demikian dari hasil berpikir manusia maka salah satu yang dikembangkan adalah eksistensialisme dan humanisme. Kata eksistensialisme berasal dari kata eks: keluar dari sistensi atau sista=berdiri, menempatkan. Secara umum berarti, manusia dalam keberadaanya itu sadar bahwa dirinya ada dan segala sesuatu keberadaanya ditentuan oleh akunya.

Selain itu eksistensialisme juga merupakan aliran filsafat yang memandang berbagai gejala dengan berdasar pada eksistensinya, artinya bagaimana manusia berada dalam dunia.

Beberapa pengertian lain:

Pandangan yang menyatakan bahwa eksistensi bukanlah objek dari berfikir abstrak atau pengalaman kognitif (akal pikiran) tetap merupakan eksistensi/pengalaman langsung,bersifat pribadi dan dalam batin   individu. Dan ditegaskan bahwa eksitensi mendahului esensi.

Sebuah gerakan filsafat penentang eksistensialisme. Pusat perhatiannya adalah situasi manusia. Eksistensialisme teistik biasanya dianggap berawal dari kiergaard dan eksistensialisme ateistik dari Nietzshe

sikap dan pandangan dalam filsafat, teologi dan seni yang menekankan penderitaan, atau rasa gelisah manusia serta menekankan eksistensi manusia dan kualitas-kualitas yang menonjol bagi pribadi-pribadi bukan kualitas manusia yang abstrak/dunia secara umum.

2. Lahirnya Eksistensialisme

Eksistensialisme juga lahir sebagai reaksi terhadap idealisme, materialisme dan idealisme adalah dua pandangan filsafat tentang hakikat juga ekstrim, kedua-duanya berisi benih-benih kebenaran, tetapi keduanya salah. Dimana idealisme memandang manusia hanya sebagai subyek hanya sebagai kesadaran. Sedangkan materialisme hanya melihat manusia sebagai objek. Materialisme lupa bahwa barang di dunia ini disebut objek lantaran adanya subjek.

Salah satu penyebab munculnya ataupun lahirnya eksistensialisme yaitu karena sifat materialisme. Dimana materialisme memandang baik yang kolot maupun yang modern, manusia itu pada akhirnya adalah benda seperti halnya kayu dan batu. Memang orang materialis tidak mengatakan bahwa manusia sama dengan benda seperti batu dan kayu. Akan tetapi, materialisme mengatakan bahwa pada hakikatnya, jadi pada prinsipnya pada dasarnya manusia hanyalah sesuatu yang material.

Dalam keadaan seperti itu, filosof melihat pada diri krisis itu. Maka dari proses itu ditampilah eksistensialisme yang menjadikan manusia sebagai subjek dan sekaligus objek. Manusia dijadikan tema sentral dalam perenungan.

Lahirnya eksistensialisme juga didorong munculnya oleh situasi dunia pada umumnya. Dimana eksistensialisme lahir sebagai reaksi terhadap dunia, terutama dunia eropa barat. Keadaan dunia pada wakti itu tidak menentu. Rasa takut berkecamuk, terutama terhadap ancaman perang. Tingkah laku manusia telah menimbulkan rasa muak. Penampilan manusia penuh rahasia. Nilai sedang mengalami krisis. Bahkan manusianya sendiri sedang mengalami krisis. Manusia menjadi orang yang gelisa, merasa eksistensinya terancam oleh ulahnya sendiri.

3.  Tujuan Eksistensialisme

Eksistensialisme bereaksi terhadap rasionalisme zaman pecerahan, dan filsafat jerman kontianisme dan positivisme yang menyebar luas pada akhir abad ini. Melawan pendangan-pendangan yang menempatkan menusia pada tingkat impersonal/abstrak.

Mencoba menjawab pertanyaan bagaimana manusia seharusnya hidup sesudah ilusi tentang kebebasannya hancur berantakan oleh malapetaka yang begitu banyak dalam sejarah bencana historis menghancurkan ilusi tentang kebebasan manusia.

4.  Ciri-ciri pokok Eksistensialisme

Di dalam filsafat eksistensi manusia dipandang sebagai terbuka. Manusia adala realitas yang belum selesai, yang duia sekitarnya terlebih lebih pada sesama manusia.Filsafat eksistensialisme memberi tekanan pada pengalaman kongkrit, pengalaman eksistensial

Motif pokok adalah apa yang disebut eksistensi, yaitu cara manusia berada, hanya manusialah yang bereksistensi. Eksistensi adalah cara khas manusia berada. Pusat perhatian ada pada manusia, karena itu bersifat humanistik.Bereksistensi harus diartikan secara dinamis. Bereksistensi berarti menciptakan dirinya secara kreatif. Bereksistensi berarti berbuat menjadi merencanakan, setiap saat, manusia menjadi lebih atau kurang dari keadaanya.

5. Tokoh-tokoh eksistensialisme

  1. 1.    J. P. Sartree

Menurut sarte eksistensi manusia mendahului esensinya. Pandangan ini sangat janggal sebab biasanya sesuai harus ada esensinya lebih dulu sebelum keberadaanya. Serta menggabungkan semua tema eksistensialisme ateitik, kebebasan radikal, manusia dan posisinya sebagai keadaan ketiadaan yang meniadakan (kematian Allah) pencari nilai, otentis, adanya kecemasan mendalam dan ketiadaan sebagai kategori pokok.

  1. 2.    Ortega

Menandaskan individu kongrit 2 “rasio vital” manusia tak punya hakikat tetapi sejarah, namun begitu tujuan manusia adalah autentisitas.

  1. 3.    Nietzshe

Menyumbangkan gerakan itu dengan tema”Allah mati” tiap individu mesti mencari nilai-nilainya sendiri, sebagai jembatan menuju masa depan.

  1. 4.    Soran Kierkegaard

Kierkegaard menyatakan bahwa filsafat tidak merupakan suatu sistem, tetapi suatu pengekspresian eksistensi individual. Ia menentang filsafaat yang bercorak sistematis.

  1. 5.    Unamuno

Menandaskan banyak penegasan kierkegaard individu kongrit (yaitu manusia yang berdaging dan bertulang) “kehidupan tragis” dan penggantian keyakinan yang benar dengan kebenaran objektif.

  1. 6.    Heidegger

Menandaskan kebebasan manusia autentisitas sorga atau kepedulian dan das Nicht/ketiadaan sebagai kategori dasar dan positif.

  1. 7.    Jaspens

Membangun filsafat eksistensi (eksistenz phiosophy) seputar ide autentisitas.

  1. 8.    Gabriel Marcel

Bahwa manusia tidak  hidup sendirian, tetapi bersama-sama dengan orang lain. tetapi pada itu hidup memiliki kebebasan yang bersifaat otonom. Dalam pada itu ia selalu dalam situasi yang ditentukan oleh kejasmaniannya. Dari luar ia dapat menguasai jasmaninya.

Manusia bukanlah mkhluk yang statis, sebab ia senantiasa menjadi (berproses). Ia selalu menghadapi objek yang harus diusahakan, seperti yang tampak dalam hubungannya dengan orang lain. dapat disimpulkan filsafatnya marcell, ia menandaskan keunggulan yang kongrit atas abstrak, dan misteri yang ada.

Historis manusia.

B.  HUMANISME

1. Pengertian

Istilah humanisme berasal dari kata latin “humanitas” (pendidikan manusia dan dalam bahasa yunani disebut paidoia=pendidikan yang didukung oleh manusia-manusia yang hendak menempatkan seni liberal sebagai materi atau sarana utamnya.

2. Sejarah Lahirnya Humanisme

Humansme lahir di italy, pelopornya yaitu: Petrarca dan Boceaccio pusat gerakan ini ialah Filorence. Dari itali humanisme kemudian meluas ke eropa barat, dibantu oleh kepandaian mencetak buku (1450).  Dimana-mana dicari karangan orang klasik. Setelah Istanbul jatuh ke tangan orang Turki (1453) banyak sejarah Yunani mengungsi ke ialy, mereka mengembangkan kepandaian klasik. Perpustakaan didirikan di Roma, Venesia, Florence, dan ditempat-tempat lain. Dengan demikian dapatlah paham-paham baru itu berkembang dengan cepat. Suasana iklim abad pertengahan diarahkan kepada diessctgkeit. Tuhan sebagai pusat norma tertinggi mulai ditinggalkan orang. Cita-cita manusia dicari pada manusia sendiri. Ukuran kebenaran, kesusilaan, keindahan dicari dan didapatkan pada manusia pula.

3. Tujuan Humanisme

Melepaskan diri dari belenggu kekuasaan gereja dan membebaskan akal budi dari kungkunganya  yang mengikat.